Jumat, 12 Desember 2014

ISLAM DI ANDALUSIA


TUGAS MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR


ISLAM DI ANDALUSIA



1 . PENDAHULUAN

Wilayah Andalusia terletak di benua Eropa sebelah barat daya. Di Timur dan Tenggara berbatasan dengan laut tengah (Mediternia). Di sebelah selatan berbatasan dengan Afrika dan di bagian barat berbatasan dengan Samudra Atlantik. Wilayah ini dikenal dengan nama Kepulauan Iberia (Iberian Peninsula). Orang Arab mengenal Iberia dengan sebutan Andalusia (al – andalus). Saat ini wilayah Iberia dikenal dengan Spanyol dan Portugal.
Sebelum islam datang ke wilayah ini, kawasan Iberia dikuasai oleh bangsa Visigoths Barat (al - Quth al Garbiyin) sekitar pada awal abad kelima Masehi, setelah mereka berhasil menaklukan bangsa Vandals (al – Wandal), sebelumnya wilayah ini berada pada kekuasaan bangsa Romawi. Dari kata al – Wandal   -seperti yang disebutkan di atas- orang Arab menyebutnya dengan al – Andalus.
Tahun 750 M adalah masa – masa terakhir kekuasaan dinasti Umayah, sekaligus menandakan dimulainya kekuasaan dinasti Abbasiyah. Klan Abbasiyah yang menyimpan dendam kesumat terhadap dinasti Umayah melakukan serangkaian pembantaian khususnya kepada anggota keluarga Umayah. Salah seorang yang lolos dari Ancaman Abbasiyah yaitu Abdurrahman bin Muawiyah cucu dari Hisyam, khalifah kesepuluh dinasti Umayah di Damaskus. Pengembaraan Abdurrahman sampai ke Andalusia menjadi cerita awal berdirinya dinasti Umayah ke 2 di Andalusia.
Dalam catatan sejarah bahwa umat islam yang pertama kali datang ke Andalusia adalah masa kekhalifahan Utsman bin Affan 648 M/27 H. Namun kedatangan mereka bukan dalam bentuk penaklukan, hanya melakukan ekplorasi wilayah saja. Pendaratan yang berupa penaklukan baru terjadi pada tahun 711 M pada masa kekuasaan dinasty Umayah yang akan diuraikan berikut ini.

2 . LATAR BELAKANG PENAKLUKAN ANDALUSIA
Sejarah masuknya Islam ke Andalusia terjadi pada masa pemerintahan al – Walid bin abdul malik. Masa pemerintahannya merupakan puncak kejayaan perluasan Islam. Al – Walid mengangkat Musa bin Nusair sebagai gubernur di Afrika Utara. Di bawah kepemimpinannya, kekuasaan Islam telah berhasil mejangkau hampir seluruh kawasan di Afrika Utara. Setelah itu mulai menggerakan pasukannya ke Andalusia.
Motivasi penaklukan Andalusia dalam catatan sejarah bukan berasal dari keinginan kaum Muslimin sendiri untuk menaklukan kawasan itu. Melainkan didorong oleh semangat untuk membantu kelompok yang tertindas, salah satunya yaitu  seorang yang bernama Julian, Gubernur di Ceuta (Sebtah) bersama pengikutnya di Andalusia yang terintimidasi oleh penguasa kawasan itu yang bernama Roderick.
Karena keterbatasan kekuatan pasukannya ia tidak sanggup melawan Roderick, sebab itulah ia meminta bantuan Musa bin Nusair untuk menumpas Roderick dan menaklukan Andalusia. Sebagian besar sejarawan berpendapat bahwa kedatangan Julian kepada Musa bin Nusair semata – mata untuk meminta bantuan karena ia bersama pengikutnya terintimidasi oleh kesewenang – wenangan Roderick.
Kekuasaan bangsa Visighots atau Ghots (al – Quth) di bawah raja Roderick di Andalusia memang membuat sengsara penduduknya. Mayoritas orang di sana hidup dalam kesulitan dan kemiskinan. Strata sosial atau tingkatan masyarakatnya terbagi ke dalam beberapa tingkatan sesuai dengan status sosial mereka.
Tingkatan pertama adalah golongan bangsawan (al – nubala) yang terdiri dari para raja, pangeran, pembesar istana, tokoh agama, sampai pemilik tanah dalam skala besar. Tingkatan kedua adalah golongan pedagang (al – tujjar), petani (al – zarra’) dan pemilik tanah dalam skala kecil. Sedangkan tingkatan ketiga adalah golongan budak termasuk di dalamnya para pengembala, nelayan, pandai besi, buruh dan orang Yahudi. Tingkatan ketiga ini mendapat imbalan makan sehari dua kali tetapi tidak menikmati hasil tanah yang mereka garap.
Untuk mempertahankan hidup, tingkatan ketiga ini dengan sangat terpaksa harus merampok, membunuh dan membajak. Intinya wilayah ini mengalami kebangkrutan moral yang dibarengi dengan kebangkrutan ekonomi. Sebab itulah Julian memohon bantuan Musa bin Nusair untuk menaklukan Andalusia.
Permohonan Julian tidak serta merta dipenuhi oleh Musa, sebagai Gubernur ia harus meminta persetujuan khalifah Walid di Damaskus. Pada tahun 710 M/91 H, Musa mendapatka izin dari Walid untuk membantu Julian dan membebaskan Andalusia. Sebagai langkah awal ia memerintahkan Tarif bin Malik memimpin 5000 pasukan untuk mengintai kekuatan pasukan Roderick dan mempelajari situasi dan kondisi Andalusia sebelum mengirim pasukan dalam jumlah yang besar. Tharif bersama pasukannya mendarat di selatan Andalusia tepatnya di pulau Paloma (Isla de las Palomas) pada bulan Ramadhan 710 M/91 H. Pulau Paloma dikemudian hari dikenal dengan Pulau Tarifa yang di ambil dari nama Tarif bin Malik.
Setelah mendapatkan informasi yang akurat, pada hari kamis 5 Rajab 92 H/711 M, Musa mulai menyiapkan pasukan sebanyak  7000 orang, sebagian besar dari bangsa Barbar dan sebagian kecil dari bangsa Arab. Kemudian Musa mengangkat Thariq bin Ziyad sebagai pemimpinnya. Thariq adalah muslim Barbar dari suku Nafzah. Ia seorang prajurit yang gagah berani, pemimpin terbaik yang memiliki ketulusan dan semangat yang tinggi untuk menegakan panji – panji Islam. Karena itulah Musa memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin misi yang sangat penting dalam sejarah peradaban Islam. Pasukan Thariq bergabung dengan pasukan Tharif sehingga jumlah keseluruhan pasukan Islam sebanyak 12.000 orang yang terdiri dari pasukan infantri dan kavaleri.
Julian yang memiliki kepentingan dalam penaklukan ini menyiapkan segala kebutuhan perang termasuk menyediakan perahu untuk mengarangi lautan dari Afrika Utara menuju Andalusia sepanjang 3 mil. Pasukan Thariq mendarat di sebuah bukit yang kelak dinamakan Gibraltar (Jabal Thariq). Di bawah kegelapan malam, bala tentara mendarat tanpa diketahui oleh pasukan Roderick. Menurut cerita, setelah semua pasukan turun dari kapal, Thariq membakar semua kapal dan mengabarkan pasukannya bahwa pilihan mereka hanya menaklukan Andalusia atau mati di jalan Allah atau biasanya umat Islam menyebutnya dengan kata “Fii Sabiilillaah”.
Roderick yang tengah sibuk memadamkan konflik di daerahnya mengetahui kedatangan pasukan muslim dari Afrika Utara, dengan sigap ia menyiapkan 100.000 pasukannya untuk menghadang pasukan Thariq. Dua pasukan bertemu di lembah sungai Barbate (wadi barbath). Pertempuran sengit terjadi di antara dua pasukan selama 3 hari yang dimenangkan oleh pasukan Thariq bin Ziyad. Nasib Roderick tidak diketahui dengan pasti, sebuah riwayat menjelaskan bahwa Roderick melarikan diri kemudian bersembunyi di tepi sungai Barbate tetapi ia dikejar oleh pasukan Muslim kemudian tercebur ke sungai lalu mati tenggelam.
Pasukan Thariq telah berhasil mengalahkan pasukan Roderick. Kemenangan ini memudahkan pasukan Muslim untuk meneruskan penaklukan wilayah – wilayah lain seperti Cordoba, Archedonia, Malaga, Elvira dan akhirnya berhasil menguasai Toledo ibu kota Visigoths. Kemenangan pasukan yang dipimpin Thariq menjadi inspirasi Musa bin Nusair untuk menaklukan wilayah lain. Untuk itu ia memimpin pasukannya sendiri untuk menaklukan kota lain seperti Sevilla dan Merida. Musa akhirnya bertemu pasukan Thariq di Toledo dan bergabung untuk bersama – sama membangun kekuatan menaklukan wilayah utara Andalusia seperti Zaragoza, Terrafona dan Barcelona. Setelah semua kawasan di kuasai bahkan sampai ke selatan Prancis, Musa bin Nusair memberikan kekuasaan kembali kepada Julian untuk menguasai wilayah Ceutah kawasan di mana ia berkuasa sebelumnya.

3 . DI BALIK PERISTIWA PENAKLUKAN ANDALUSIA
Terdapat beberapa peristiwa penting  di balik penaklukan Andalusia, di antaranya adalah pidato Thariq dan pembakaran perahu yang dilakukan Thariq bin Ziyad setelah mendarat di Andalusia. Melihat sumber – sumber yang berkaitan dengan sejarah penaklukan Andalusia ternyata ada beberapa versi berkaitan dengan isi pidato Thariq di hadapan pasukannya sebelum menaklukan Andalusia. Begitu juga cerita tentang kebenaran Thariq membakar perahu ternyata diragukan faktanya. Berikut ini kutipan dari buku karya Dr. Abdurrahman Ali al – Hajji Tarikh al – andalusy min al – fath al – islamy hatta suqhuti garnatha (Sejarah Andalusia dari penaklukan Islam sampai jatuhnya Granada). 

4 . KHUTBAH THARIQ SEBELUM PENAKLUKAN ANDALUSIA
Setelah pasukan Thariq mendekat pasukan Roderick lantas ia berdiri di hadapan pasukannya seraja memuji Allah dan bershalawat atas Rasulullah kemudian menyeru pasukannya untuk bertempur dan mengajaknya untuk mati sebagai syahid. Ia memulai pidatonya:
“Wahai Manusia, ke manakah kalian akan lari? Laut di belakang kalian dan musuh di hadapan kalian. Sungguh kalian tidak memiliki apa – apa kecuali keteguhan hati dan kesabaran. Ketahuilah kalian di pulau ini lebih rendah status kalian dari pada anak yatim di hadapan aneka hidangan. Kalian akan segera bertemu dengan musuh – musuh kalian dengan pasukan, senjata, dan kekuatan mereka yang beragam. Kalian tidak memiliki apa – apa kecuali pedang di tangan kalian. Tidak ada kekuatan lain kecuali kalian rebut dari tangan musuh – musuh kalian. Karena itu kalian harus menyerang mereka, jika tidak hasrat kalian untuk menyerang mereka akan tumbuh, angin kemenangan tidak akan berhembus kepada kalian, barangkali rasa gentar yang bersembunyi di hati musuh – musuh kalian akan berganti menjadi keberanian yang sukar dikalahkan. Buanglah segala rasa takut dari hati kalian, percayalah kemenangan akan berada di pihak kita, dan percayalah rasa yang dzalim itu tidak akan mampu bertahan dari serangan kita. Ia telah datang untuk menjadikan kita tuan dari kota – kota dan istana – istana yang dikuasainya, serta menyerahkan pada kita harta karun yang tak terhitung banyaknya dan jika kalian sepenuhnya menangkap peluang yang tersedia, maka itu bisa menjadi cara bagi kalian untuk memiliki semua itu, di samping akan menyelamatkan diri kalian dari kematian yang tak terelakan. Jangan kalian berpikir bahwa aku membebankan tugas kepada kalian sementara aku sendiri akan menghindar, atau aku menutup – nutupi bahaya yang ada dalam pertempuran ini. Tidak !! kalian memang akan menghadapi masalah yang besar, tetapi kalian juga mengetahui bahwa kalian hanya akan menderita sebentar saja, di akhir pertempuran ini kalian akan menikmati hasil yang berlimpah dari perjuangan kalian. Jangan kalian bayangkan bahwa sementara aku berkata ini pada kalian sedangkan aku tidak berniat untuk melakukannya, sebab hasratku dalam pertempuran ini jauh melebihi hasrat kalian, dengannya apa yang aku lakukan akan melebihi apa yang kalian lakukan. Saat kalian melihatku bertempur sekuat tenaga, seranglah musuh bersamaku, jika aku membunuhnya, kemenangan akan menjadi milik kita, jika aku terbunuh sebelum mendekatinya, janganlah kalian bersusah payah karena aku, tetaplah bertempur seolah – olah aku masih hidup dan berada di tengah kalian dan ikuti tujuanku, sebab jika mereka melihat rajanya tersungkur, pastilah kaum kafir ini akan kocar – kacir, tetapi jika aku terbunuh sebelum menewaskan raja mereka, tunjuklah salah seorang di antara kalian yang di dalam dirinya terdapat perpaduan keberanian dan pengalaman dan menindaklanjuti keberhasilan kita. Jika kalian melaksanakan arahanku niscaya kita akan menang”.
Begitulah pidato Thariq di hadapan pasukannya sebelum bertempur melawan pasukan Roderick. Pidato ini membangkitkan semangat juang kaum Muslimin yang jumlah pasukannya lebih kecil dibandingkan pasukan Roderick. Pidato ini juga memberikan inspirasi dan impian mereka untuk menegakkan panji – panji Islam.

5 . PEMBAKARAN PERAHU
Apakah benar Thriq bin Ziyad membakar perahu yang membawa pasukannya menuju Andalusia agar tidak ada kesempatan bagi mereka untuk kembali pulang, dan tetap bertahan untuk tetap berperang? Sebagaimana yang disebutkan oleh beberapa sejarawan. Akan tetapi mengapa Thariq membakar perahu – perahu itu? Apakah itu miliknya atau milik Julian? Bukankah Thariq bersama pasukannya berjuang atas nama aqidah yang siap dan rela untuk mati di jala Allah dan Thariq sangat meyakini itu dalam pidato – pidatonya.
Jika perahu – perahu itu milik Julian, bukanlah hak Thariq untuk membakarnya. Jika perahu – perahu itu milik kaum Muslimin, membakarnya bukanlah sikap patriot yang tepat dan benar bagi seorang prajurit. Karena itu menurut penulis kitab Tarikh al – andalusy min al – fath al – Islamy hatta suqhuti garnatha kisah tentang pembakaran perahu itu tidak ada dan tidak ada hubungannya dengan pidato Thariq.

6 . PERIODE KEKUASAAN DI ANDALUSIA
Kekuasaan Islam di semenanjung (kepulauan) Iberia berlangsung selama 8 abad, dimulai sejak penaklukan yang dipimpin oleh Thariq, Musa dan Tharif pada tahun 711 M/92 H sampai jatuhnya Granada pada tahun 1492 M/898 H. Pada abad – abad tersebut sejarah Andalusia terbagi beberapa periode yang silih berganti dari kekuasaan. Berikut ini penjelasan secara global tentang masa – masa di mana kekuasaan saling berganti.
1.      Periode I adalah masa penaklukan (al – fath), yang berlangsung selama 4 tahun ( 711 – 714 M/92 – 95 H ).
2.      Periode II adalah periode wali – wali (al – wulat) atau bisa dikatakan sebagai perwakilan khalifah di Damaskus (741 – 755 M/95 – 138 H). Sebagian sejarawan memasukkan periode ini ke dalam penaklukan yang berakhir setelah kedatangan Abdurrahman al – Dakhil ke Andalusia pada tahun 755 M/134 H. Pada periode ini Andalusia dipimpin oleh 20 orang wali selama 42 tahun, mereka semua di angkat oleh khalifah bani Umayah di Damaskus atau di angkat oleh perwakilan gubernur di Afrika Utara.
3.      Periode III adalah periode amir (al – imarah) atau gubernur sekitar tahun 755 – 929 M/138 – 316 H. Dimulai sejak kedatangan Abdurrahman al – Dakhil sampai ia mengumumkan sebagai khalifah dinasti Umayah di Damaskus seiring dengan peralihan kekuasaan dari dinasti Umayah kepada dinasti Abbasiyah.
4.      Periode kekhalifahan (al – khalafah) 929 – 1009 M/316 – 400 H. Dimulai sejak diumumkannya kekhalifahan sampai wafatnya al – Hakam, al – Muntasir tahun 976 M/366 H atau sampai dinasti Amiriyah pada penghujung abad ke 4 H atau permulaan abad ke 11 M, dan masa kekhalifahan ini berlangsung sekitar 1 abad.
5.      Periode dinasti kecil (muluk al – thawif) 1009 – 1091 M/400 – 484 H sampai munculnya dinasti al – Murabithun.
6.      Periode al – Murabithun dan al – Muwahidun 1091 – 1126 M/484 – 520 H di mana masuknya kekuasaan al – Murabithun yang berakhir hampir setengah abad.
7.      Periode Muwahidun 1126 – 1223 kekuasaannya di Andalusia mencapai 1 abad.
8.      Periode Kerajaan Granada (Mamlakah al – gharnathah) 1223 – 1492 M/520 – 620 H di sini berdiri juga dinasti Bani Ahmar dan berlangsung selama 2 abad setengah sampai akhir abad ke 9 H/15 M sebelum runtuh. Kerunruhan Granada sama artinya dengan keruntuhan kekuasaan Islam. Tidak ada lagi pemimpin dari kalangan umat Islam.

7 . PENGARUH KEBUDAYAAN ISLAM DI ANDALUSIA (SPANYOL) TERHADAP PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DI EROPA
Pendudukan kaum Muslimin atas Spanyol pada abad ke 8 M merupakan jembatan pertama kaum muslimin ke Eropa. Pendudukan ini bahkan dibantu oleh para Uskup Sevilla yang tidak tega membiarkan kebodohan, keterbelakangan, dan kekacauan yang terjadi akibat kekacauan sosial, kerusakan di dalam, dan fitnah golongan. Selanjutnya kaum Muslimin menciptakan kestabilan dan keamanan di sana disertai dengan pembangunan dan perkembangan, sehingga Andalusia menjadi daerah di Eropa yang paling kaya dan yang paling berperadaban.
Kaum Muslimin mendudukan Andalusia pada masa kekhalifahan Walid bin Abdul Malik, melalui tangan panglima Musa bin Nusair dan Thariq bin Ziyad pada tahun 711 M. Setelah itu Andalusia terus berada di bawah kekuasaan Islam hingga jatuhnya Granada pada akhir kerajaan Islam di Spanyol pada tahun 1492 M. Sepanjang sejarah, bangsa Eropa bangsa Eropa memiliki hubungan yang pasang surut dengan Islam dan kaum Muslimin. Pemerintahan Islam di Andalusia Spanyol, pada abad ke 8 sampai abad ke 15, adalah pemerintahan Islam pertama yang berinteraksi dengan bangsa Eropa. Melalui peradaban Islam di Andalusia, Eropa dapat berkenalan dengan keilmuan periode Yunani dan Romawi kuno. Perilaku manusiawi dan keadaan jauh dari kekerasan yang ditunjukkan kaum Muslimin terhadap kaum Kristen Eropa telah membuka pintu gerbang ilmu dan seni yang mengeluarkan Eropa dari abad kegelapan dan kebodohan selama 10 abad.
Melalui Spanyol, kebudayaan Islam menyentuh negara – negara Eropa. Setelah kemajuan Islam di Spanyol mencapai puncaknya, tumbuh sekolah – sekolah dan universitas yang mengkaji berbagai ilmu pengetahuan. Bahasa Arab menjadi bahasa pengantar di sekolah – sekolah atau di universitas bahkan menjadi bahasa resmi di pemerintahan. Akibatnya, hampir tidak ada orang Spanyol Kristen yang tidak mengerti bahasa Arab. Kemajuan ilmu pengetahuan yang dicapai oleh sarjana Muslim Arab tersebut mendorong raja Alfonso pada tahun 830 M meminta dua orang sarjana Spanyol Islam untuk menjadi guru besar putera – puteranya dan ahli warisnya. Proses seperti ini kemudian berlanjut, para cendikiawan Barat banyak yang datang belajar ke pusat – pusat ilmu pengetahuan Spanyol Islam seperti di kota Cordoba, Sevilla , Toledo dan lain – lain.  
Ketika terjemahan terhadap berbagai ilmu pengetahuan seperti ilmu filsafat, astronomi, kedokteran, geografi, matematika, dan sebagainya mendapat perhatian serius di Universitas Toledo yang didirikan pada tahun 1130 M, banyak orang Kristen dari berbagai penjuru Eropa datang belajar di Universitas tersebut. Cendekiawan Eropa hasil cetakan Universitas Toledo inilah yang tersebar ke seluruh Eropa yang selanjutnya meneruskan usaha penerjemahan berbagai ilmu pengetahuan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Latin. Ulama Muslim seperti Al – Faraby, Ar – Razy, Ibnu Sina, Al – Biruni, Ibnu Rusyd dan Abdul Qasim al – Zahrawi mengarang ribuan bukudalam bahasa Arab yang kemudian diterjemahkan oleh orang – orang Barat ke dalam bahasa mereka. Di Andalusia, Spanyol yang menjadi pintu gerbang Eropa, Islam menjadi tempat pengembangan budaya dan ilmu pengetahuan. Universitas – universitas Islam dipenuhi mahasiswa untuk menuntut ilmu, sebagian berasal dari negara Italia, Jerman, Prancis, dan Inggris. Kelak merekalah yang mengambil alih pijar ilmu dari Andalusia dan menjadi motor gerakan Renaissance di Eropa.
Gerakan penerjemahan berkembang pesat karena mendapat dukungan raja dan Uskup Gerard Cremenia. Buku – buku yang diterjemahkan adalah karya Ptolemeus, Plato, Aristoteles, Socrates, yang sebelumnya telah diterjemahkan dalam bahasa Arab. Bahasa Arab sendiri dimengerti oleh cendikiawan Eropa yang pernah belajar pada kota – kota pusat ilmu pengetahuan di kerajaan Islam Spanyol. Akhirnya gerakan penerjemahan ini mengantarkan Eropa memasuki babakan baru yang disebut Renaissance.

8 . KESIMPULAN
1.      Masuknya Islam ke kawasan Eropa membuktikan semakin kuatnya pengaruh Islam ke seluruh dunia. Eropa kala itu berada dalam zaman kegelapan dan keterbelakangan. Kedatangan Islam memberikan pencerahan dan inspirasi dari Eropa dari ketertinggalannya.
2.      Motivasi dari penaklukan Islam diAndalusia adalah semangat untuk membantu golongan yang tertindas, bukan syahwat politik untuk memperluas wilayah. Umat Islam datang sebagai penolong mereka yang tertindas dari masyarakat kelas tiga dari lapisan masyarakat Andalusia. Mereka sudah lama memimpikan kebebasan dari cengkraman jahat raja Roderick.
3.      Khalifah Walid bin Abdul Malik, Musa bin Nusair, Tharif bin Malik, Thriq bin Ziyad dan Julian adalah sederetan nama yang tercatat dalam tinta emas sejarah penaklukan Andalusia.
4.      Semangat juang yang tinggi berlapis keyakinan dan keimanan menjadi senjata paling ampuh untuk melawan musuh yang lebih besar kekuatannya.
5.      Example of Warior atau contoh teladan seorang pemimpin pasukan perang bernama Thariq bin Ziyad adalah salah satu tonggak keberhasilan penaklukan Andalusia.
6.      Selama 8 abad Islam menguasai Eropa, membangun peradaban, menanamkan nilai – nilai ketuhanan dan kemanusiaan, sekaligus memberikan inspirasi bagi kemajuan peradaban Eropa masa lalu dan masa kini sehingga mereka sadar bagaimana seharusnya memosisikan dari dalam kehidupan ini.
7.      Bagi generasi hari ini, pelajaran yang bisa diambil adalah semangat juang dan kemauan yang tinggi dapat mewujudkan cita – cita yang diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA
Ismail Bakar, Wan Kamal Mujani, Anwar Zainal Abidin, Pensejarahan Islam, 2001, Bangi:UKM
Karena Amstrong, Sejarah Islam Singkat,2008, Jogjakarta: elbanin Media
Saeful Bahri, Sejarah Peradaban Islam, 2010, Pondok Pesantren Daar el qolam,Gintung jayanti Tangerang
Marshall G.S. Hodgson, The Venture of Islam Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia,2002, cet.II,Jakarta:Paramadina
Suhelmi, Ahmad.2001. Pemikiran Politik Barat. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.
Syahmuharnis & Hary Sidharta. 2006. TQ Transcendental Quotient Kecerdasan Diri Terbaik. Jakarta : Republika.