TUGAS
MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR
ISLAM DI ANDALUSIA
1
. PENDAHULUAN
Wilayah
Andalusia terletak di benua Eropa sebelah barat daya. Di Timur dan Tenggara
berbatasan dengan laut tengah (Mediternia). Di sebelah selatan berbatasan
dengan Afrika dan di bagian barat berbatasan dengan Samudra Atlantik. Wilayah
ini dikenal dengan nama Kepulauan Iberia (Iberian
Peninsula). Orang Arab mengenal Iberia dengan sebutan Andalusia (al – andalus). Saat ini wilayah Iberia
dikenal dengan Spanyol dan Portugal.
Sebelum
islam datang ke wilayah ini, kawasan Iberia dikuasai oleh bangsa Visigoths
Barat (al - Quth al Garbiyin) sekitar
pada awal abad kelima Masehi, setelah mereka berhasil menaklukan bangsa Vandals
(al – Wandal), sebelumnya wilayah ini
berada pada kekuasaan bangsa Romawi. Dari kata al – Wandal -seperti yang
disebutkan di atas- orang Arab menyebutnya dengan al – Andalus.
Tahun
750 M adalah masa – masa terakhir kekuasaan dinasti Umayah, sekaligus
menandakan dimulainya kekuasaan dinasti Abbasiyah. Klan Abbasiyah yang
menyimpan dendam kesumat terhadap dinasti Umayah melakukan serangkaian pembantaian
khususnya kepada anggota keluarga Umayah. Salah seorang yang lolos dari Ancaman
Abbasiyah yaitu Abdurrahman bin Muawiyah cucu dari Hisyam, khalifah kesepuluh
dinasti Umayah di Damaskus. Pengembaraan Abdurrahman sampai ke Andalusia
menjadi cerita awal berdirinya dinasti Umayah ke 2 di Andalusia.
Dalam
catatan sejarah bahwa umat islam yang pertama kali datang ke Andalusia adalah
masa kekhalifahan Utsman bin Affan 648 M/27 H. Namun kedatangan mereka bukan
dalam bentuk penaklukan, hanya melakukan ekplorasi wilayah saja. Pendaratan
yang berupa penaklukan baru terjadi pada tahun 711 M pada masa kekuasaan
dinasty Umayah yang akan diuraikan berikut ini.
2 . LATAR BELAKANG PENAKLUKAN ANDALUSIA
Sejarah
masuknya Islam ke Andalusia terjadi pada masa pemerintahan al – Walid bin abdul
malik. Masa pemerintahannya merupakan puncak kejayaan perluasan Islam. Al –
Walid mengangkat Musa bin Nusair sebagai gubernur di Afrika Utara. Di bawah
kepemimpinannya, kekuasaan Islam telah berhasil mejangkau hampir seluruh
kawasan di Afrika Utara. Setelah itu mulai menggerakan pasukannya ke Andalusia.
Motivasi
penaklukan Andalusia dalam catatan sejarah bukan berasal dari keinginan kaum
Muslimin sendiri untuk menaklukan kawasan itu. Melainkan didorong oleh semangat
untuk membantu kelompok yang tertindas, salah satunya yaitu seorang yang bernama Julian, Gubernur di
Ceuta (Sebtah) bersama pengikutnya di Andalusia yang terintimidasi oleh
penguasa kawasan itu yang bernama Roderick.
Karena
keterbatasan kekuatan pasukannya ia tidak sanggup melawan Roderick, sebab
itulah ia meminta bantuan Musa bin Nusair untuk menumpas Roderick dan
menaklukan Andalusia. Sebagian besar sejarawan berpendapat bahwa kedatangan
Julian kepada Musa bin Nusair semata – mata untuk meminta bantuan karena ia
bersama pengikutnya terintimidasi oleh kesewenang – wenangan Roderick.
Kekuasaan
bangsa Visighots atau Ghots (al – Quth) di
bawah raja Roderick di Andalusia memang membuat sengsara penduduknya. Mayoritas
orang di sana hidup dalam kesulitan dan kemiskinan. Strata sosial atau
tingkatan masyarakatnya terbagi ke dalam beberapa tingkatan sesuai dengan
status sosial mereka.
Tingkatan pertama adalah golongan bangsawan (al – nubala) yang terdiri dari para
raja, pangeran, pembesar istana, tokoh agama, sampai pemilik tanah dalam skala
besar. Tingkatan kedua adalah
golongan pedagang (al – tujjar),
petani (al – zarra’) dan pemilik
tanah dalam skala kecil. Sedangkan tingkatan ketiga adalah golongan budak termasuk di dalamnya para pengembala,
nelayan, pandai besi, buruh dan orang Yahudi. Tingkatan ketiga ini mendapat imbalan makan sehari dua kali tetapi tidak
menikmati hasil tanah yang mereka garap.
Untuk
mempertahankan hidup, tingkatan ketiga ini dengan sangat terpaksa harus
merampok, membunuh dan membajak. Intinya wilayah ini mengalami kebangkrutan
moral yang dibarengi dengan kebangkrutan ekonomi. Sebab itulah Julian memohon
bantuan Musa bin Nusair untuk menaklukan Andalusia.
Permohonan
Julian tidak serta merta dipenuhi oleh Musa, sebagai Gubernur ia harus meminta
persetujuan khalifah Walid di Damaskus. Pada tahun 710 M/91 H, Musa mendapatka
izin dari Walid untuk membantu Julian dan membebaskan Andalusia. Sebagai
langkah awal ia memerintahkan Tarif bin Malik memimpin 5000 pasukan untuk
mengintai kekuatan pasukan Roderick dan mempelajari situasi dan kondisi
Andalusia sebelum mengirim pasukan dalam jumlah yang besar. Tharif bersama
pasukannya mendarat di selatan Andalusia tepatnya di pulau Paloma (Isla de las
Palomas) pada bulan Ramadhan 710 M/91 H. Pulau Paloma dikemudian hari dikenal
dengan Pulau Tarifa yang di ambil dari nama Tarif bin Malik.
Setelah
mendapatkan informasi yang akurat, pada hari kamis 5 Rajab 92 H/711 M, Musa
mulai menyiapkan pasukan sebanyak 7000
orang, sebagian besar dari bangsa Barbar dan sebagian kecil dari bangsa Arab.
Kemudian Musa mengangkat Thariq bin Ziyad sebagai pemimpinnya. Thariq adalah
muslim Barbar dari suku Nafzah. Ia seorang prajurit yang gagah berani, pemimpin
terbaik yang memiliki ketulusan dan semangat yang tinggi untuk menegakan panji
– panji Islam. Karena itulah Musa memberikan kepercayaan kepadanya untuk
memimpin misi yang sangat penting dalam sejarah peradaban Islam. Pasukan Thariq
bergabung dengan pasukan Tharif sehingga jumlah keseluruhan pasukan Islam
sebanyak 12.000 orang yang terdiri dari pasukan infantri dan kavaleri.
Julian
yang memiliki kepentingan dalam penaklukan ini menyiapkan segala kebutuhan
perang termasuk menyediakan perahu untuk mengarangi lautan dari Afrika Utara
menuju Andalusia sepanjang 3 mil. Pasukan Thariq mendarat di sebuah bukit yang
kelak dinamakan Gibraltar (Jabal Thariq).
Di bawah kegelapan malam, bala tentara mendarat tanpa diketahui oleh pasukan
Roderick. Menurut cerita, setelah semua pasukan turun dari kapal, Thariq
membakar semua kapal dan mengabarkan pasukannya bahwa pilihan mereka hanya
menaklukan Andalusia atau mati di jalan Allah atau biasanya umat Islam
menyebutnya dengan kata “Fii Sabiilillaah”.
Roderick
yang tengah sibuk memadamkan konflik di daerahnya mengetahui kedatangan pasukan
muslim dari Afrika Utara, dengan sigap ia menyiapkan 100.000 pasukannya untuk
menghadang pasukan Thariq. Dua pasukan bertemu di lembah sungai Barbate (wadi
barbath). Pertempuran sengit terjadi di antara dua pasukan selama 3 hari yang
dimenangkan oleh pasukan Thariq bin Ziyad. Nasib Roderick tidak diketahui
dengan pasti, sebuah riwayat menjelaskan bahwa Roderick melarikan diri kemudian
bersembunyi di tepi sungai Barbate tetapi ia dikejar oleh pasukan Muslim
kemudian tercebur ke sungai lalu mati tenggelam.
Pasukan
Thariq telah berhasil mengalahkan pasukan Roderick. Kemenangan ini memudahkan
pasukan Muslim untuk meneruskan penaklukan wilayah – wilayah lain seperti
Cordoba, Archedonia, Malaga, Elvira dan akhirnya berhasil menguasai Toledo ibu
kota Visigoths. Kemenangan pasukan yang dipimpin Thariq menjadi inspirasi Musa
bin Nusair untuk menaklukan wilayah lain. Untuk itu ia memimpin pasukannya
sendiri untuk menaklukan kota lain seperti Sevilla dan Merida. Musa akhirnya
bertemu pasukan Thariq di Toledo dan bergabung untuk bersama – sama membangun
kekuatan menaklukan wilayah utara Andalusia seperti Zaragoza, Terrafona dan
Barcelona. Setelah semua kawasan di kuasai bahkan sampai ke selatan Prancis,
Musa bin Nusair memberikan kekuasaan kembali kepada Julian untuk menguasai
wilayah Ceutah kawasan di mana ia berkuasa sebelumnya.
3 . DI BALIK PERISTIWA PENAKLUKAN
ANDALUSIA
Terdapat
beberapa peristiwa penting di balik
penaklukan Andalusia, di antaranya adalah pidato Thariq dan pembakaran perahu
yang dilakukan Thariq bin Ziyad setelah mendarat di Andalusia. Melihat sumber –
sumber yang berkaitan dengan sejarah penaklukan Andalusia ternyata ada beberapa
versi berkaitan dengan isi pidato Thariq di hadapan pasukannya sebelum
menaklukan Andalusia. Begitu juga cerita tentang kebenaran Thariq membakar
perahu ternyata diragukan faktanya. Berikut ini kutipan dari buku karya Dr.
Abdurrahman Ali al – Hajji Tarikh al –
andalusy min al – fath al – islamy hatta suqhuti garnatha (Sejarah
Andalusia dari penaklukan Islam sampai jatuhnya Granada).
4 . KHUTBAH THARIQ SEBELUM
PENAKLUKAN ANDALUSIA
Setelah
pasukan Thariq mendekat pasukan Roderick lantas ia berdiri di hadapan
pasukannya seraja memuji Allah dan bershalawat atas Rasulullah kemudian menyeru
pasukannya untuk bertempur dan mengajaknya untuk mati sebagai syahid. Ia
memulai pidatonya:
“Wahai Manusia, ke
manakah kalian akan lari? Laut di belakang kalian dan musuh di hadapan kalian.
Sungguh kalian tidak memiliki apa – apa kecuali keteguhan hati dan kesabaran.
Ketahuilah kalian di pulau ini lebih rendah status kalian dari pada anak yatim
di hadapan aneka hidangan. Kalian akan segera bertemu dengan musuh – musuh
kalian dengan pasukan, senjata, dan kekuatan mereka yang beragam. Kalian tidak
memiliki apa – apa kecuali pedang di tangan kalian. Tidak ada kekuatan lain
kecuali kalian rebut dari tangan musuh – musuh kalian. Karena itu kalian harus
menyerang mereka, jika tidak hasrat kalian untuk menyerang mereka akan tumbuh,
angin kemenangan tidak akan berhembus kepada kalian, barangkali rasa gentar
yang bersembunyi di hati musuh – musuh kalian akan berganti menjadi keberanian
yang sukar dikalahkan. Buanglah segala rasa takut dari hati kalian, percayalah
kemenangan akan berada di pihak kita, dan percayalah rasa yang dzalim itu tidak
akan mampu bertahan dari serangan kita. Ia telah datang untuk menjadikan kita
tuan dari kota – kota dan istana – istana yang dikuasainya, serta menyerahkan
pada kita harta karun yang tak terhitung banyaknya dan jika kalian sepenuhnya
menangkap peluang yang tersedia, maka itu bisa menjadi cara bagi kalian untuk
memiliki semua itu, di samping akan menyelamatkan diri kalian dari kematian
yang tak terelakan. Jangan kalian berpikir bahwa aku membebankan tugas kepada
kalian sementara aku sendiri akan menghindar, atau aku menutup – nutupi bahaya
yang ada dalam pertempuran ini. Tidak !! kalian memang akan menghadapi masalah
yang besar, tetapi kalian juga mengetahui bahwa kalian hanya akan menderita
sebentar saja, di akhir pertempuran ini kalian akan menikmati hasil yang
berlimpah dari perjuangan kalian. Jangan kalian bayangkan bahwa sementara aku
berkata ini pada kalian sedangkan aku tidak berniat untuk melakukannya, sebab
hasratku dalam pertempuran ini jauh melebihi hasrat kalian, dengannya apa yang
aku lakukan akan melebihi apa yang kalian lakukan. Saat kalian melihatku
bertempur sekuat tenaga, seranglah musuh bersamaku, jika aku membunuhnya,
kemenangan akan menjadi milik kita, jika aku terbunuh sebelum mendekatinya,
janganlah kalian bersusah payah karena aku, tetaplah bertempur seolah – olah aku
masih hidup dan berada di tengah kalian dan ikuti tujuanku, sebab jika mereka
melihat rajanya tersungkur, pastilah kaum kafir ini akan kocar – kacir, tetapi
jika aku terbunuh sebelum menewaskan raja mereka, tunjuklah salah seorang di
antara kalian yang di dalam dirinya terdapat perpaduan keberanian dan
pengalaman dan menindaklanjuti keberhasilan kita. Jika kalian melaksanakan
arahanku niscaya kita akan menang”.
Begitulah
pidato Thariq di hadapan pasukannya sebelum bertempur melawan pasukan Roderick.
Pidato ini membangkitkan semangat juang kaum Muslimin yang jumlah pasukannya
lebih kecil dibandingkan pasukan Roderick. Pidato ini juga memberikan inspirasi
dan impian mereka untuk menegakkan panji – panji Islam.
5 . PEMBAKARAN PERAHU
Apakah
benar Thriq bin Ziyad membakar perahu yang membawa pasukannya menuju Andalusia
agar tidak ada kesempatan bagi mereka untuk kembali pulang, dan tetap bertahan
untuk tetap berperang? Sebagaimana yang disebutkan oleh beberapa sejarawan.
Akan tetapi mengapa Thariq membakar perahu – perahu itu? Apakah itu miliknya
atau milik Julian? Bukankah Thariq bersama pasukannya berjuang atas nama aqidah
yang siap dan rela untuk mati di jala Allah dan Thariq sangat meyakini itu
dalam pidato – pidatonya.
Jika
perahu – perahu itu milik Julian, bukanlah hak Thariq untuk membakarnya. Jika
perahu – perahu itu milik kaum Muslimin, membakarnya bukanlah sikap patriot
yang tepat dan benar bagi seorang prajurit. Karena itu menurut penulis kitab Tarikh al – andalusy min al – fath al –
Islamy hatta suqhuti garnatha kisah tentang pembakaran perahu itu tidak ada
dan tidak ada hubungannya dengan pidato Thariq.
6 . PERIODE KEKUASAAN DI ANDALUSIA
Kekuasaan
Islam di semenanjung (kepulauan) Iberia berlangsung selama 8 abad, dimulai
sejak penaklukan yang dipimpin oleh Thariq, Musa dan Tharif pada tahun 711 M/92
H sampai jatuhnya Granada pada tahun 1492 M/898 H. Pada abad – abad tersebut
sejarah Andalusia terbagi beberapa periode yang silih berganti dari kekuasaan. Berikut
ini penjelasan secara global tentang masa – masa di mana kekuasaan saling
berganti.
1. Periode
I adalah masa penaklukan (al – fath), yang
berlangsung selama 4 tahun ( 711 – 714 M/92 – 95 H ).
2. Periode
II adalah periode wali – wali (al –
wulat) atau bisa dikatakan sebagai perwakilan khalifah di Damaskus (741 –
755 M/95 – 138 H). Sebagian sejarawan memasukkan periode ini ke dalam
penaklukan yang berakhir setelah kedatangan Abdurrahman al – Dakhil ke
Andalusia pada tahun 755 M/134 H. Pada periode ini Andalusia dipimpin oleh 20
orang wali selama 42 tahun, mereka semua di angkat oleh khalifah bani Umayah di
Damaskus atau di angkat oleh perwakilan gubernur di Afrika Utara.
3. Periode
III adalah periode amir (al – imarah) atau
gubernur sekitar tahun 755 – 929 M/138 – 316 H. Dimulai sejak kedatangan
Abdurrahman al – Dakhil sampai ia mengumumkan sebagai khalifah dinasti Umayah
di Damaskus seiring dengan peralihan kekuasaan dari dinasti Umayah kepada
dinasti Abbasiyah.
4. Periode
kekhalifahan (al – khalafah) 929 –
1009 M/316 – 400 H. Dimulai sejak diumumkannya kekhalifahan sampai wafatnya al
– Hakam, al – Muntasir tahun 976 M/366 H atau sampai dinasti Amiriyah pada
penghujung abad ke 4 H atau permulaan abad ke 11 M, dan masa kekhalifahan ini
berlangsung sekitar 1 abad.
5. Periode
dinasti kecil (muluk al – thawif) 1009
– 1091 M/400 – 484 H sampai munculnya dinasti al – Murabithun.
6. Periode
al – Murabithun dan al – Muwahidun 1091 – 1126 M/484 – 520 H di mana masuknya
kekuasaan al – Murabithun yang berakhir hampir setengah abad.
7. Periode
Muwahidun 1126 – 1223 kekuasaannya di Andalusia mencapai 1 abad.
8. Periode
Kerajaan Granada (Mamlakah al –
gharnathah) 1223 – 1492 M/520 – 620 H di sini berdiri juga dinasti Bani
Ahmar dan berlangsung selama 2 abad setengah sampai akhir abad ke 9 H/15 M
sebelum runtuh. Kerunruhan Granada sama artinya dengan keruntuhan kekuasaan
Islam. Tidak ada lagi pemimpin dari kalangan umat Islam.
7 . PENGARUH KEBUDAYAAN ISLAM DI
ANDALUSIA (SPANYOL) TERHADAP PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DI EROPA
Pendudukan
kaum Muslimin atas Spanyol pada abad ke 8 M merupakan jembatan pertama kaum
muslimin ke Eropa. Pendudukan ini bahkan dibantu oleh para Uskup Sevilla yang
tidak tega membiarkan kebodohan, keterbelakangan, dan kekacauan yang terjadi
akibat kekacauan sosial, kerusakan di dalam, dan fitnah golongan. Selanjutnya
kaum Muslimin menciptakan kestabilan dan keamanan di sana disertai dengan pembangunan
dan perkembangan, sehingga Andalusia menjadi daerah di Eropa yang paling kaya
dan yang paling berperadaban.
Kaum
Muslimin mendudukan Andalusia pada masa kekhalifahan Walid bin Abdul Malik,
melalui tangan panglima Musa bin Nusair dan Thariq bin Ziyad pada tahun 711 M.
Setelah itu Andalusia terus berada di bawah kekuasaan Islam hingga jatuhnya
Granada pada akhir kerajaan Islam di Spanyol pada tahun 1492 M. Sepanjang
sejarah, bangsa Eropa bangsa Eropa memiliki hubungan yang pasang surut dengan
Islam dan kaum Muslimin. Pemerintahan Islam di Andalusia Spanyol, pada abad ke
8 sampai abad ke 15, adalah pemerintahan Islam pertama yang berinteraksi dengan
bangsa Eropa. Melalui peradaban Islam di Andalusia, Eropa dapat berkenalan
dengan keilmuan periode Yunani dan Romawi kuno. Perilaku manusiawi dan keadaan
jauh dari kekerasan yang ditunjukkan kaum Muslimin terhadap kaum Kristen Eropa
telah membuka pintu gerbang ilmu dan seni yang mengeluarkan Eropa dari abad
kegelapan dan kebodohan selama 10 abad.
Melalui
Spanyol, kebudayaan Islam menyentuh negara – negara Eropa. Setelah kemajuan
Islam di Spanyol mencapai puncaknya, tumbuh sekolah – sekolah dan universitas
yang mengkaji berbagai ilmu pengetahuan. Bahasa Arab menjadi bahasa pengantar
di sekolah – sekolah atau di universitas bahkan menjadi bahasa resmi di
pemerintahan. Akibatnya, hampir tidak ada orang Spanyol Kristen yang tidak
mengerti bahasa Arab. Kemajuan ilmu pengetahuan yang dicapai oleh sarjana
Muslim Arab tersebut mendorong raja Alfonso pada tahun 830 M meminta dua orang
sarjana Spanyol Islam untuk menjadi guru besar putera – puteranya dan ahli
warisnya. Proses seperti ini kemudian berlanjut, para cendikiawan Barat banyak
yang datang belajar ke pusat – pusat ilmu pengetahuan Spanyol Islam seperti di
kota Cordoba, Sevilla , Toledo dan lain – lain.
Ketika
terjemahan terhadap berbagai ilmu pengetahuan seperti ilmu filsafat, astronomi,
kedokteran, geografi, matematika, dan sebagainya mendapat perhatian serius di
Universitas Toledo yang didirikan pada tahun 1130 M, banyak orang Kristen dari
berbagai penjuru Eropa datang belajar di Universitas tersebut. Cendekiawan
Eropa hasil cetakan Universitas Toledo inilah yang tersebar ke seluruh Eropa
yang selanjutnya meneruskan usaha penerjemahan berbagai ilmu pengetahuan dari
bahasa Arab ke dalam bahasa Latin. Ulama Muslim seperti Al – Faraby, Ar – Razy,
Ibnu Sina, Al – Biruni, Ibnu Rusyd dan Abdul Qasim al – Zahrawi mengarang
ribuan bukudalam bahasa Arab yang kemudian diterjemahkan oleh orang – orang
Barat ke dalam bahasa mereka. Di Andalusia, Spanyol yang menjadi pintu gerbang
Eropa, Islam menjadi tempat pengembangan budaya dan ilmu pengetahuan.
Universitas – universitas Islam dipenuhi mahasiswa untuk menuntut ilmu,
sebagian berasal dari negara Italia, Jerman, Prancis, dan Inggris. Kelak
merekalah yang mengambil alih pijar ilmu dari Andalusia dan menjadi motor
gerakan Renaissance di Eropa.
Gerakan
penerjemahan berkembang pesat karena mendapat dukungan raja dan Uskup Gerard
Cremenia. Buku – buku yang diterjemahkan adalah karya Ptolemeus, Plato,
Aristoteles, Socrates, yang sebelumnya telah diterjemahkan dalam bahasa Arab.
Bahasa Arab sendiri dimengerti oleh cendikiawan Eropa yang pernah belajar pada
kota – kota pusat ilmu pengetahuan di kerajaan Islam Spanyol. Akhirnya gerakan
penerjemahan ini mengantarkan Eropa memasuki babakan baru yang disebut Renaissance.
8 . KESIMPULAN
1. Masuknya
Islam ke kawasan Eropa membuktikan semakin kuatnya pengaruh Islam ke seluruh
dunia. Eropa kala itu berada dalam zaman kegelapan dan keterbelakangan.
Kedatangan Islam memberikan pencerahan dan inspirasi dari Eropa dari
ketertinggalannya.
2. Motivasi
dari penaklukan Islam diAndalusia adalah semangat untuk membantu golongan yang
tertindas, bukan syahwat politik untuk memperluas wilayah. Umat Islam datang
sebagai penolong mereka yang tertindas dari masyarakat kelas tiga dari lapisan
masyarakat Andalusia. Mereka sudah lama memimpikan kebebasan dari cengkraman
jahat raja Roderick.
3. Khalifah
Walid bin Abdul Malik, Musa bin Nusair, Tharif bin Malik, Thriq bin Ziyad dan
Julian adalah sederetan nama yang tercatat dalam tinta emas sejarah penaklukan
Andalusia.
4. Semangat
juang yang tinggi berlapis keyakinan dan keimanan menjadi senjata paling ampuh
untuk melawan musuh yang lebih besar kekuatannya.
5. Example of Warior atau
contoh teladan seorang pemimpin pasukan perang bernama Thariq bin Ziyad adalah
salah satu tonggak keberhasilan penaklukan Andalusia.
6. Selama
8 abad Islam menguasai Eropa, membangun peradaban, menanamkan nilai – nilai
ketuhanan dan kemanusiaan, sekaligus memberikan inspirasi bagi kemajuan
peradaban Eropa masa lalu dan masa kini sehingga mereka sadar bagaimana
seharusnya memosisikan dari dalam kehidupan ini.
7. Bagi
generasi hari ini, pelajaran yang bisa diambil adalah semangat juang dan kemauan
yang tinggi dapat mewujudkan cita – cita yang diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA
Ismail
Bakar, Wan Kamal Mujani, Anwar Zainal Abidin, Pensejarahan Islam, 2001, Bangi:UKM
Karena
Amstrong, Sejarah Islam Singkat,2008,
Jogjakarta: elbanin Media
Saeful
Bahri, Sejarah Peradaban Islam, 2010, Pondok
Pesantren Daar el qolam,Gintung jayanti Tangerang
Marshall
G.S. Hodgson, The Venture of Islam Iman
dan Sejarah dalam Peradaban Dunia,2002, cet.II,Jakarta:Paramadina
Suhelmi,
Ahmad.2001. Pemikiran Politik Barat. Jakarta:Gramedia
Pustaka Utama.
Syahmuharnis
& Hary Sidharta. 2006. TQ
Transcendental Quotient Kecerdasan Diri Terbaik. Jakarta : Republika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar